Cerita Pendek_Tugas 2 FLP Bogor
Ira, Gadis Misterius
Ira, gadis ber-rok mini kuning, berkacamata motif Hello kitty, dan berbando kuning di kepalanya. Awal bertemu, perempuan itu begitu lugu dan polos, penampilannya sosok perawakan anak kuliahan. Pertemuanku dengan gadis itu berawal di tempat foto kopian Amore.
“Mbak, kos dimana?” ,sapa gadis itu di depan konter pulsa sebelah foto kopian Amore.
“Di jalan Mastrip?Ada yang bisa saya bantu mbak?”
“Kamarnya ada yang kosong mbak? Saya mau kos, cari-cari kos dari tadi gak dapet-dapet”, tanyanya dengan tampang melas sok imut dan logat Bahasa Inodonesia ke-Jawa-jawan.
Tanpa ada rasa keraguan dan terfikir apa pun pertanyaan itu langsung ku jawab, “Ada, tapi cuma 1 mbak. Mbak ini emangnya dari mana? Kok sendirian?”. Ku rasa dia sosok yang lebih muda dari umur ku dan tentunya dari cara berpakaiannya terlihat lebih modis dengan rok mini di atas lutut, lebih tepatnya gaya anak muda jaman now.
“Mmmm...tadi saya sama temen mbak, tapi temen saya masih nyari kos juga gak nemu-nemu. Saya dari Banyuwangi mbak, rumah saya Genteng, saya kuliah di Universitas Muhammadiyah Jember.”
“Ooo....sama dong, rumahku Banyuwangi juga”, saat mendengar kata Banyuwangi seperti bertemu saudara seperjuangan senasib seperadaban, hatiku bertambah girang. Rasanya tidak ingin meninggalkan anak ini seorang diri. Simpatiku pada perempuan itu mulai timbul.
“Sekarang mau lihat kosanku?” Tanyaku kembali.
“Kalau boleh, saya minta tolong mbak. Lihat kosnya mbak, boleh?”
“Boleh, tapi ibu kosnya gak ada, nanti saya antar ke bu kos deh”, jawabku.
“Waduh, ngrepotin mbaknya nih?”,jawabnya dengan raut muka sungkan tapi terlihat penuh harapan.
“Ayo sudah mbak, kosku deket sini di jalan Mastrib”, ajakku.
“Iya mbak”.
Dengan kemolekan kakinya berwarna sawo matang agak gelap, gadis itu beranjak duduk di sadel sepedah motorku. Tanpa ada kata permisi gadis itu dengan tegas dan cepat langsung duduk sampai kakiku hampir terperosok dan oleng menahan berat beban badanya yang jauh lebih besar dariku.
Disela-sela mengendarai sepedah motor menuju kosku di Jl. Mastrib II no.45, gadis itu mengajakku ngobrol. Banyak sekali yang kita perbincangkan tentang perkuliahan. Saat itulah aku sedikit tau seluk beluk gadis tersebut. Seorang mahasiswi jurusan keperawatan semester 1 yang belum pernah ngekos di Jember. Sebenarnya dalam hati menyimpan beribu banyak pertanyaan, namun tidak mungkin aku lontarkan satu persatu dari sekian ribu pertanyaan, karena melihat gadis ini kelelahan setelah perjalanan dari Kota Banyuwangi.
Tiga menitan berlalu, sampailah di kosku, di Jl. Mastrib II no.45. Sebelum membuka gerbang, sempat terlontar pertanyaan dari ribu pertanyaan yang aku simpan, “Ibunya mau ke sini berarti ya? Emang mau ngekos kapan mbak? Terus barang-barangnya juga gimana?”
“O iya, mamaku ntar lagi tak suruh ke sini aja ya mbak? Kalau barang-barangnya besok hari Minggu, ngekosnya tapi hari Senin, tapi habis ini anterin ke ibu kosnya bisa ya mbak?”
“Iya bisa, smean lihat dulu kamarnya, soalnya gak begitu luas. Masuk ke dalam dulu mbak, kunci kamarnya ada di bu kos, nanti kita sekalian minta kunci ke bu kos.”
Dengan keadaan kos yang masih berantakan dan barang-barang berceceran dilantai, aku persilahkan gadis itu duduk diruang tamu beralaskan ambal atau karpet. Sambil memain-mainkan rambutnya, pandangannya tidak lepas dari barang-barang dan dinding-dinding di dalam kos yang baru saja di renovasi dua minggu yang lalu. Pada saat detik itulah aku mulai ada rasa yang mengganjal dengan sikap gadis itu. Segera mungkin aku masuk kamar dan membereskan barang-barang yang berceceran. Sorotan mata gadis tersebut terlihat disela-sela pintu, dia mencoba menengok kamarku, namun aku cepat keluar dari kamar dan menguncinya.
“Ayo mbak ke rumah ibu kos, gak jauh kok”. Rasanya aku ingin cepat mengantarkan gadis itu ke rumah bu kos, segera memperlihatkan kamar, dan berharap tidak tertarik dengan kamar kosong itu.
“Mbak, aku kok ngrepotinya ya? Mbaknya habis ini mau ke mana?”, tanya gadis itu.
Sesekali gadis itu menata rambutnya. Jawabku, “Gak apa-apa, ayo saya antar. Sebenarnya saya mau nemui ibu saya mbak di daerah Kebonsari, tapi nanti saja setelah pulang dari rumah ibu kos.”
Sebelum dia beranjak duduk di sepedah motor, aku kuat-kuatkan kakiku untuk menahan berat beban tubuhnya dengan modal Bismillah dan hati-hati. Diperjalanan entah mengapa masih saja banyak pikiran-pikiran tentang gadis itu. Pikiranku mulai tidak konsen dan sesekali di tengah perjalanan tatapanku kosong tidak ada tujuan.
Beberapa menit kemudian sampailah di rumah Bu Jumarti. Ada dua orang laki-laki sedang duduk di teras rumahnya.
“Assalamualaikum, mas permisi, Bu Jumarti ada?”, sapaku ramah.
“Oh, ada dek, masuk aja, ada di dalam.”
Aku dan gadis itu masuk ke dalam. Bu Jumarti ternyata sedang duduk di ruang tamu sedang sibuk dengan laptopnya. Dari kejauhan senyumannya terlihat sumringah. Aku tau bahwasannya beliau senang kalau aku mengajak seorang gadis yang akan mengekos. Aku langsung berjabat tangan dan duduk.
“Ada apa mbak? Ayo sini silahkan masuk”, kata Bu Jumarti.
“Ini bu, mahasiswa Universitas Muhammadiyah mau kos, mau lihat kamarnya dulu, masih semester satu bu, rumahnya Banyuwangi.”
“O..masih saudara ya?”, tanya Bu Jumarti.
“Bukan bu, ini tadi saya ketemu di foto kopian Amore, saya belum kenal. Tiba-tiba tanya kos kosong dan akhirnya saya ajak ke sini bu.” Jawabku tegas dengan sedikit suara lirih.
Beberapa detik suasana terdiam. Mendengar jawabanku, Bu Jumarti manggut-manggut.
“Ini Bu KTP saya,” sahut gadis itu dengan menyodorkan KTP nya pada Bu Jumarti.
“Saya percaya sama smean orang baik-baik”, tanpa ada rasa ragu Bu Jumarti menolak sodoran KTP gadis itu. “Ini saya kasih kuncinya sama mbak diah, nanti tolong kalau sudah jadi ngekos langsung ke sini, tapi barang-barang saya masih di situ, mau ditaruh mana ya? O..gampang, besok biar saya angkut ke sini.” Sambil menyodorkan kuncinya, aku beranjak dari tempat duduk, berdiri, dan mohon pamit untuk segera kembali ke kos untuk memperlihatkan kamar kosong.
Setelah sampai di kos, aku buka kamar kosong itu. Terlihat sempit, gelap, pengap, tapi tempat tidur tertata rapi. Gadis itu masuk kamar dan melihat-lihat keadaan kamar. Dia mencoba menghidupkan lampu, namun lampu di kamar itu tidak menyala.
“Ini lampunya rusak mbak, biar nanti ibu kos yang benahin. Kalau mau lihat kamar mandi ini di belakang, ada dua. Gimana? Nyaman gak kamarnya? Soalnya emang kayak gini, agak sempit.”, jelasku pada gadis itu.
Gadis itu tampak sumringah memandangi langit-langit kamar sambil duduk di atas kasur. Rambutnya yang terurai panjang sesekali dimainkan dengan jari-jarinya.
“Iya mbak, gak apa-apa. Mamaku habis ini ke sini”, sahut gadis itu.
“Setelah ini aku mau nemui ibuku mbak, gimana? Saya tinggal dulu mbak, mbak nanti bisa sama temenku di lantai atas.”
“Gak usah mbak, gak apa-apa aku sendirian, beneran gak apa-apa”, jawabnya.
Sahutku, “Oh! Jangan mbak! Ayo ikut aku ke lantai atas, sama temenku dulu!”
Melihat barang-barang tercecer dimana-mana, rasa khawatir pun mulai muncul. Di kamar tepatnya di bawah tangga, temanku yang bernama Rika sedang tertidur pulas. Pintu kamarnya terbuka lebar.
Aku naik ke lantai atas bersama gadis itu, tepatnya di ruang TV kos. Ada temanku yang sedang asik main laptopnya sambil menonton TV. Sepertinya dia sedang sibuk membereskan nota-nota acara diklat yang diselenggarakan kemarin. Ruangan lantai atas ternyata jauh lebih banyak barang-barang yang tercecer, baju, kardus, kertas, laporan, dan semuanya itu memenuhi ruang TV.
“Mad, iki arek ape kos kene, konconi sek yo, aku ape neng ibuku, ndek Kebonsari,”pintaku ke Kadita. Mad adalah panggilannya di kosan.
Kadita merespon dengan wajah kaget sambil menyeringitkan alisnya, “Oh! Iyo ta? Iya wes.”
Aku langsung menuruni tangga dan mengendarai sepedah menuju ke Indomaret untuk membeli pulsa. Setelah itu menghubungi ibu. Ternyata ibu dan bapak masih sibuk bertemu dengan client kerja. Setelah beberapa menit kemudian, ibu mengabari kalau urusan dengan client belum selesai. Bertemu ibu ke Kebonsari pun batal karena aku tidak ingin mengganggu mereka. Inginnya menghindari gadis itu, tapi bagaimana ya? Gadis aneh. Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Jember tapi ngekos di jalan Mastrib, daerah kos yang jarang terjamah anak Universitas Muhammadiya Jember.
Selama perjalanan munculah pertanyaan-pertanyaan. Yang awalnya seribu pertanyaan, kini menjadi dua kali lipatnya. Pikiranku menjadi tidak tenang. Terpikir teman-temanku yang di kos menemani gadis itu. Untuk menghilangkan rasa khawatirku, aku mengirim SMS pada Kadita, Mad, ati-ati, sebener e iku mau aku gak kenal ambi arek iku, tadi ketemu di Amore.
Sampailah di depan kos, sepedah aku parkiran di kos sebelah (tempat biasanya parkir sepedah). Aku tidak langsung memasuki kos. Aku ingin menghilangkan rasa khawatir ini. Rasanya hidup tidak tenang dan selalu dikejar-kejar rasa khawatir campur cemas. Yah, satu mangkuk bakso cukup untuk mengusir rasa khawatir campur cemas itu. Tepat sekali di sebelah kosku ada warung bakso. Tapi walaupun sudah menyantap bakso yang masih hangat-hangatnya, rasa khawatir dan cemas tidak begitu langsung hilang. Tidak senikmat biasanya menyantap bakso. Setelah membayar semangkok bakso, aku langsung menuju kos. Ternyata gadis itu sudah memapakku di depan gerbang.
“Lho, Mbak! Sepedahnya Mbak di mana?”, tanyanya dan matanya sambil mencari-cari sepedah motor yang aku parkir di kos sebelah.
“Itu mbak di kos sebelah”, jawabku.
Tanpa ada kata sepatah apapun aku langsung menuju lantai atas dan gadis itu membuntutiku. Kadita masih terlihat sibuk mengurusi nota-nota dari 30 menitan yang lalu. Kertas-kertas banyak berceceran dan terdengar suara TV yang nyaring. Gadis itu duduk bersamaku dan Kadita melihat TV.
“Aduuhh! Aku kok gatal-gatal ya habis mandi? Airnya kok gini ya Mbak?”, gerutu gadis itu secara tiba-tiba sambil menggaruk-garuk tangannya.
Aku sedikit kaget mendengar kata ‘mandi’.
“Habis mandi mbak?”, tanyaku.
“Iya barusan”,jawabnya sambil sibuk menggaruk-garuk, “Aku gak cocok airnya Mbak."
“Lho iya? Soalnya airnya PAM mbak, ada kaporitnya”, sahutku.
Perbincangan kemudian terhenti tiba-tiba ketika terdengar suara, “Assalamualaikum!”
“Wa’alaikum salam”, jawabku, Kadita, dan gadis itu.
Sosok perempuan menaiki tangga tiba-tiba muncul. Suara kakinya terdengar, “Buk..buk..buk..buk..buk”. Aku sangat mengenali suara langkah kakinya. Siapa lagi kalau bukan Silvina. Sampainya di lantai atas, Silvina melebarkan senyumnya dan tercengang melihat gadis yang tidak dikenalnya itu duduk bersamaku dan Kadita. Kadita langsung menatap Silvina.
“Sil, iki arek ape ngekos kene”, ucap Kadita, kemudian kembali fokus ke laptopnya.
“Oalah...dulurmu to di?”, tanya Silvina.
“Uduk! Tapi podo Banyuwangi”, jawabku.
“Tak kiro dulurmu, Di”, balas Silvina padaku.
Setelah itu Silvina masuk ke kamarnya dengan langkah gontai. Seharian di kampus membuatnya seperti orang yang sudah tidak berdaya. Aku lihat dia langsung merebahkan badannya di kasur sambil membuka laptop dan memutar film. Daripada duduk bersama gadis yang baru aku kenal itu, aku lebih tertarik menghampiri Silvina yang sedang asik menonton film korea dan ikut merebahkan tubuh di kasurnya. Karena tidak bisa menahan rasa curiga dan khawatir, semua asal-muasal gadis itu kuceritakan padanya. Silvina ternyata menyimpan rasa curiga. Ceritaku tiba-tiba terhenti, gadis itu mendekatiku dan Silvina sambil memeluk boneka yang ada di kamar Silvina. Kadita juga tiba-tiba masuk kamar.
“Mbak ini semua agamanya Islam ya?”, tanya gadis itu.
“Iya mbak”, jawabku, Silvina, dan Kadita bersamaan.
“Kalau saya Budha.”
Kemudian Kadita dan gadis itu keluar dari kamar Silvina dan duduk kembali di ruang TV. Masih saja Kadita sibuk dengan laptopnya sambil ngobrol dengan gadis itu. Kertas-kertas yang semula berceceran kini sudah ditatanya rapi. Aku tidak begitu mendengar obrolan mereka karena lebih tertarik menonton film korea daripada memperhatikan gadis itu. Yang kulihat kemudian gadis itu menuruni tangga sambil membawa tas. Satu tiga menit kemudian aku mengikutinya dan aku lihat Rika dengan muka kebingungan di lantai bawah ujung tangga.
“Rik, arek wedok iku mau neng ndi?”, tanyaku.
“Sopo iku Di? Metu kene mau, mlaku”,jawab Rika.
“Iyo ta Rik? Gak pamitan?!”, tanyaku semakin penasaran.
“Ndak Di, ket mau sliwar-sliwer nek ngarep kamarku, terus nakok i aku, ‘Kos di sini ya?’, terus yo tak jawab, ‘Iya’.”
“Iku mau arek anyar Rik, ape ngekos kene, ngenteni ibuk e, tapi kok moro-moro ilang gak pamitan aku pisan, padahal mau rene karo aku”, jelasku pada Rika.
“Aku tangi turu mau kaget Di, kok enek arek wedok, sopo iku, sliwar-sliwer pisan.”
Rasa khawatir bercampur takut, curiga, Su’udzon mulai menajam. Kini sudah tidak lagi aneh gadis itu, tapi misterius. Aku buka kamar kosong itu, dia tidak meninggalkan apapun kecuali kertas yang berisi tulisan-tulisan tentang kesehatan. Aku lihat barang-barang disekeliling kos tidak ada yang berubah dan tidak ada yang berkurang. Sepedahku yang terparkir di depan kos juga masih ada.
“ Mad!Mad!Mad!”, teriakan Kadita dari lantai atas, “Dompetku dimana ya?! Kok tiba-tiba gak ada?”.
Aku langsung lari menaiki tangga menuju lantai atas. Melihat kondisi Kadita yang sedang bingung mencari dompetnya, pikiranku tidak lepas dari gadis itu. Ya, itu! Gadis itu! Gadis itu! Kertas-kertas yang mulanya tertata rapi aku obrak-abrik. Tas ransel Kadita aku bolak-balik, tapi dompetnya tidak ada.
“Arek iku mau nengdi mad?!”, tanya Kadita panik.
“Gak eruh mad, mau ngomong e tinggal nunggu Mama”, jawabku panik bercampur bingung.
Semua penghuni kos kebingungan bercampur takut. Rika sibuk menata barang-barang yang ada dikamarnya. Silvina melihat-lihat barang-barang di kamarnya apakah ada yang berkurang. Sedangkan Kadita terus mencari-cari dompetnya.
“Arek iku mau mad seng njupok berarti! Tasmu mau nek ngarep e arek iku ta? Dompet e neng kunu pisan?”.
“Iyo mad! Aku yo gak nangndi-ndi, ket mau ambek arek iku ndelok TV. Tapi aku kok gak ndelok arek iku njipuk dompetku, gak eruh aku mad”, ucapku dengan panik
Kadita sekarang terlihat benar-benar kebingungan. Raut mukanya suram. Dan ternyata di dompetnya ada material penting seperti ATM , KTP, uang untuk membayar SPP. Berkali-kali aku, Rika, Silvina membongkar barang-barang di ruang TV, dompet Kadita yang berwarna coklat itu tidak ditemukan. Aku hanya bisa tercengang dan terdiam duduk di ujung tangga. Kadita dan Silvina ke luar kos mengejar gadis itu dengan mengendarai sepedahku, namun alhasil gadis itu menghilang misterius.
Komentar
Posting Komentar