Reportase 1 FLP_Pertemuan Perdana Anggota Forum Lingkar Pena Bogor ke 10


Bogor-Pertemuan perdana anggota Forum Lingkar Pena Kota Bogor ke 10 diselenggarakan di secretariat Forum Lingkar Pena Kota Bogor di Jl. Gunung Batu gang Mushola pada hari Minggu, 29 Oktober. Pertemuan perdana tersebut dihadiri oleh beberapa anggota yang mendaftar dan para pengurus. Acara perdana tersebut berlangsung mulai dari jam 09.00 sampai 12.00 WIB.
Sebelum penyampain materi, diawali dengan kontrak belajar antara pramuda dengan pengurus. Kontrak belajar tersebut diawali dengan pemilihan ketua kelas. Ahmad Sibli adalah laki-laki yang mengajukan dirinya secara spontan untuk menjadi ketua kelas. Kontrak belajar selanjutnya terkait waktu mulai jam belajar, absensi, tugas dan reportase, dan pembuatan blog. 
Materi pertama tentang ke-FLP an oleh Ketua Forum Lingkar Pena Kota Bogor (Sekar). Perempuan berkacamata ini sangat tegas dan lugas dalam menyampaikan materi yang terkait visi dan misi Forum Lingkar Pena. Harapannya, anggota memiliki tujuan yang selaras dengan visi dan  misi FPL kedepannya. Usai penyampaian materi tentang ke-FLPan, dilanjutkan dengan pemutaran video motivasi dan game. Dari video motivasi tersebut dapat diambil suatu pelajaran bahwa setiap orang bisa mengasilkan karya agung (masterpiece) dan dapat memotivasi anggota pramuda untuk mengasilkan berkarya. Selain itu, game yang diberikan memberikan suatu pembelajaran bahwa jika ingin mendapatkan sesuatu yang kita inginkan atau cita-citakan, harus berusaha, action, dan mempunyai taktik.
Materi kedua tentang puisi yang disampaikan oleh Pak Ahmad Sastra. Beliau adalah mantan Ketua FLP Bogor tahun 2001.  Beliau menyampaikan bahwa puisi adalah suatu ekspresi diksi dan estetika. Kita harus tau apa yang mau disampaikan salam sebuah puisi. “Membuat puisi tidaklah sulit, apalagi saat ini, puisi baru tidak ada aturan ketat”, ucapnya. Karya sastra merupakan karya imaginative yang berangkat dari fakta kemudian dikemas dan dikembangkan dengan imaginasi. Missal saja kata “Batu”, kita bisa melihat dan merasakan dari sebuah “Batu”. Kita bisa mengimajinasikan dari kata “Batu” dalam puisi dengan maksud menyampaikan pesan kepada seseorang. Menurut beliau, untuk membuat karya sasta membutuhkan perasaan dan pemikiran.
“sering-seringlah menulis, tunggulah perasaan, sedang marah, senang, melihat sesuatu”, ucap Pak Ahmad Sastra dengan nada penekanan.
“Setiap hari kita bisa berkarya berjutaan dari apa yang kita lihat. Sebelum kita mati, berjanjilah untuk membuat sebuah karya. Targetlah setiap hari ada yang ditulis. Seperti halnya puisi, puisi itu sangat singkat padat jelas, imaginatif”, imbuhnya. Selain itu Pak Ahmad Sasta juga menjelaskan bahwa problema tentang penulis yang kurang beradab, kita sebagai muslim yang taat kepada Allah harus mempunyai adab dalam menulis.   
Salah satu puisi beliau adalah “Biarkan Jemariku Terus Menari”.  Dari puisi tersebut beliau menyampaikan bahwa beliau ingin menulis sampai mati atau tidak mampu lagi menulis. Jika sudah tidak mampu menulis, beliau berkata, “Saya akan meminjam jemarimu untuk menulis, kamu! Iya Kamu!”. Dari puisi tersebut tersirat jelas niat beliau adalah memotivasi kita semua untuk selalu menulis.


(Dy)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perbedaan Artikel, Esai, dan Feature

REVIEW BUKU “Teknologi Penanganan Pascapanen Buah dan Sayuran”

Reportase V_FLP Bogor