Reportase 2_FLP
Evaluasi
Puisi dan Pelatihan Penulisan Karya Fiksi pada Pertemuan Anggota Pramuda Forum Lingkar Pena Angkatan ke-10
Puisi terbaik pilihan menurut Mas Usup
adalah puisi yang berjudul Muda Mudi, Seperti Mentega, dan Menghilangkan Jejak.
Penulis puisi yang berjudul Muda Mudi mencoba untuk berkreatifitas atau mencoba
berbeda dengan yang lain. Tidak menjadi suatu masalah suatu bentuk karya puisi
yang berbeda, justru hal inilah yang menjadi bagian yang menarik bagi pembaca. Kita
hanya bisa menanggapi dan memaknai. Puisi juga bisa dirapatkan tanpa spasi,
tapi kita harus siap untuk dikritik, puisi juga bisa menggunakan symbol.
Puisi yang berjudul seperti mentega
menggunakan kata-kata ‘membelesek’. Kata itu merupakan kata dari Bahasa Jawa. Pada
puisi tersebut, penulis terlihat mempunyai keberanian dengan ditandai penggunaan
majas. Mungkin penulis mempunyai tujuan dan rahasia tersendiri dengan
penggunaan majas tersebut.
Menurut Mas Usup, ketiga puisi tersebut
mencoba berkreatifitas dan ada sesuatu yang ditutupi. Adanya elipsis ‘oh…’ menunjukkan
ada maksud tertentu dengan penekanan. Semuanya terserah pada penulis, sekreatif
mungkin, dan harus menerima kritikan dari orang lain. Puisi menunjukkan
identitas seseorng karena penulis puisi cenderung menggunakan rasa. Untuk menulis
puisi memerlukan pengerahan batin dalam kondisi jiwa yang tenang. Jika kita
dalam keadaan kondisi marah, maka justru sulit untuk membuat puisi. Prinsip membaca
puisi dalah keindahan dulu baru makna
Pelatihan penulisan karya fiksi
khususnya pada cerpen disampaikan oleh seorang wanita yang bekerja sebagai PNS
di direktorat PAI Kementrian Agama Republik Indonesia, Ibu SIh Wikaningtyas
pada hari Minggu, tanggal 5 November 2017. Beliau adalah Ketua Forum Lingkar
Pena Bogor tahun 2003-2007. Beliau memulai menulis ketika kuliah di Institut
Pertanian Bogor. Pada saat itu beliau sedang menempuh mata kuliah statistik,
namun beliau merasa tidak menguasai statistik. Hal itulah yang mendorong beliau
berinisiatif untuk menekuni penulisan.
Menurut Ibu Sih, urgensi penulisan
adalah memicu kreatifitas, menambah wawasan, meningkatkan percaya diri,
mengembangkan potensi diri, dan memberikan kita potensi. Menulis sebagai
profesi atau pekerjaan dapat menambah uang saku selain itu merupakan suatu
bentuk amalan yang tidak akan pernah putus. Ketika kita sudah meninggal, buku
hasil karya kita atau yang kita tulis akan dibaca terus oleh banyak orang,
kemudian pembaca akan berubah menjadi lebih baik, sehingga menulis merupakan
suatu bentuk dakwah (dakwah bil qolam).
Karya fiksi merupakan suatu cerita rekaan,
sedangkan karya nonfiksi berdasarkan fakta sehingga harus dipertanggungjawabkan
isinya dan bersifat informative. Jika ingin mendalami tentang karya fiksi, cara
paling mudah untuk pemula adalah dengan sering menulis cerpen. Unsur-unsur
cerpen terdiri dari tema,alur, tokoh, sudut pandang, setting latar, gaya
bahasa, amanat atau pesan. Agar cerpen menjadi karya yang menarik, maka konflik
jangan lebih dari satu, kalimat pembuka harus menarik, cerita yang bisa
dilogikakan, ada nilai yang diangkat, dan ending
cerita harus diperhatikan. Contoh : ketika akan menulis cerpen tentang Kisah
Nabi Yusuf AS, maka tokoh-tokoh yang ada pada cerita tersebut perlu
diperhatikan. Pada jaman Nabi Yusuf AS, rajanya bernama Malik.
Pada saat menulis cerpen, pelibatan
konflik yang lebih dari satu dapat menimbulkan kebingungan pembaca sehingga
cerita menjadi kurang menarik. Selain itu, hal-hal yang harus diperhatikan
adalah jangan membuat cerpen karena mengikuti jaman atau kekinian karena belum
tentu apa yang dianggap penulis itu bagus menurut pembaca itu bagus. Kita perlu
fokus pada satu konflik pada si tokoh utama saja.
Ibu Sij juga memberikan tips menulis
cerpen yang baik diantaranya banyak membaca cerpen dari berbagai penulis untuk
mengenali beragam gaya penyampaian, membuat tabungan ide kumpulan catatan yang
berisi ide, membuat outline sederhana, dan jangan membuat ending yang menggantung.
Komentar
Posting Komentar